Ketika Viral Lebih Penting daripada Belajar: Fenomena Siswa dan Guru Aktif TikTok tetapi Ilmu Kosong
Pendahuluan
Pada dasarnya, penggunaan TikTok bukanlah sesuatu yang salah. Media sosial dapat menjadi sarana belajar, berdakwah, berbagi ilmu, dan mengembangkan kreativitas. Namun, masalah muncul ketika seseorang lebih sibuk mengejar popularitas dibandingkan meningkatkan kualitas diri. Tidak sedikit fenomena yang terlihat di masyarakat, di mana seseorang sangat aktif membuat konten hiburan, tetapi ketika diajak berdiskusi, menjawab pertanyaan pelajaran, atau menjelaskan ilmu yang dipelajarinya, justru tidak mampu memberikan jawaban yang memadai.
Fenomena ini perlu dikaji secara kritis karena dampaknya tidak hanya memengaruhi individu, tetapi juga budaya, kehidupan sosial, kesehatan psikologis, dan bahkan nilai-nilai agama yang dianut masyarakat.
Dampak Budaya: Pergeseran dari Budaya Ilmu ke Budaya Popularitas
Akibatnya, budaya belajar yang seharusnya menjadi kebiasaan mulai tergantikan oleh budaya mencari perhatian. Banyak siswa lebih hafal tren TikTok terbaru dibandingkan materi pelajaran. Bahkan ada yang menghabiskan berjam-jam membuat video, tetapi hanya beberapa menit untuk membaca buku atau mengulang pelajaran.
Jika kondisi ini terus berlangsung, masyarakat berisiko kehilangan budaya intelektual. Generasi muda akan lebih terampil mengikuti tren dibandingkan menyelesaikan masalah kehidupan yang nyata. Padahal kemajuan suatu bangsa tidak ditentukan oleh banyaknya konten viral, melainkan oleh kualitas ilmu pengetahuan, pendidikan, dan karakter masyarakatnya.
Dampak Sosial: Menurunnya Kualitas Interaksi dan Teladan
Ketika media sosial digunakan secara berlebihan untuk mencari perhatian, muncul beberapa masalah sosial, seperti:
Munculnya budaya pencitraan, yaitu lebih mementingkan penampilan daripada kemampuan nyata.
Menurunnya rasa hormat terhadap proses belajar karena kesuksesan dianggap dapat diperoleh hanya dengan viral.
Terbentuknya pola pikir bahwa hiburan lebih penting daripada pendidikan.
Hilangnya figur teladan yang menginspirasi melalui ilmu dan prestasi.
Kondisi ini dapat menyebabkan masyarakat semakin sulit membedakan mana yang benar-benar berkualitas dan mana yang hanya populer sesaat. Akibatnya, generasi muda lebih terdorong menjadi terkenal daripada menjadi bermanfaat.
Dampak Psikologis: Ketergantungan pada Validasi dan Hilangnya Fokus
Lama-kelamaan, kondisi ini dapat menyebabkan beberapa dampak psikologis:
1. Menurunnya Konsentrasi
2. Menurunnya Kemampuan Berpikir Kritis
3. Kecemasan Sosial
4. Krisis Identitas
Pada akhirnya, seseorang mungkin terlihat aktif, ceria, dan terkenal di media sosial, tetapi merasa kosong secara intelektual maupun emosional.
Dampak dari Perspektif Agama
Media sosial pada dasarnya adalah alat. Nilainya bergantung pada bagaimana alat tersebut digunakan. Jika digunakan untuk menyebarkan ilmu, mengajak kepada kebaikan, atau memberikan manfaat bagi orang lain, maka dapat menjadi amal yang bernilai ibadah. Namun jika digunakan secara berlebihan untuk pamer, mencari pujian, atau melalaikan kewajiban, maka dapat membawa dampak negatif.
Fenomena siswa atau guru yang lebih fokus pada hiburan daripada ilmu perlu menjadi bahan introspeksi. Dalam Islam, seseorang tidak dinilai dari seberapa terkenal dirinya, tetapi dari ketakwaan, amal saleh, dan manfaat yang diberikannya kepada sesama.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Oleh karena itu, ilmu dan akhlak harus menjadi prioritas utama dibandingkan popularitas yang bersifat sementara.
Bangsa tidak akan maju hanya karena banyak orang yang viral. Rumah sakit membutuhkan dokter yang kompeten, bukan dokter yang terkenal karena joget. Sekolah membutuhkan guru yang menguasai ilmu, bukan sekadar guru yang populer di media sosial. Negara membutuhkan pemimpin yang bijaksana, bukan hanya yang pandai menarik perhatian.
Popularitas dapat datang dan pergi dalam hitungan hari. Namun ilmu, karakter, dan akhlak akan tetap bermanfaat sepanjang kehidupan.
Penutup: Saatnya Masyarakat Tersadar
Masyarakat perlu menyadari bahwa masa depan bangsa tidak dibangun oleh jumlah pengikut di media sosial, melainkan oleh kualitas pemikiran, akhlak, dan ilmu pengetahuan generasinya. Orang tua perlu mengawasi penggunaan media sosial anak-anaknya. Guru perlu menjadi teladan dalam menyeimbangkan teknologi dan pendidikan. Siswa perlu memahami bahwa kesuksesan sejati tidak diperoleh melalui viralitas sesaat, tetapi melalui proses belajar yang panjang dan penuh kesungguhan.
TikTok mungkin dapat membuat seseorang terkenal dalam semalam, tetapi ilmu pengetahuanlah yang akan membuat seseorang dihormati sepanjang hidupnya. Karena itu, mari bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sedang membangun masa depan yang kuat, atau hanya mengejar perhatian yang akan dilupakan esok hari?




Komentar
Posting Komentar